Sabtu, 29 Desember 2012

Tabloid Bola, Tabloid Banci?


Membaca tulisan Dari Redaksi di Tabloid Bola edisi nomor 2.444 hari Senin-Rabu, 24-26 Desember 2012 yang menyatakan posisi Tabloid BOLA dalam konflik sepakbola nasional saat ini adalah netral, seperti pernyataan maling ayam yang ketangkap basah mencuri ayam namun masih berkelit dengan menyatakan bahwa dia hanya mau mengawasi ayam tersebut supaya tidak dicuri oleh orang lain.

Alasan yang dikemukan oleh redaksi Tabloid BOLA adalah karena suatu pihak yang bertikai dalam sepakbola Indonesia saat ini sangat pelit dalam memberikan informasi. Secara tersirat itu bisa penulis yakini bahwa pihak yang dimaksud adalah adalah pihak PSSI. Hal ini bisa kita lihat dalam pemberitaan Tabloid BOLA yang lebih sering menyuguhkan hasil wawancara dengan tokoh-tokoh KPSI (Kumpulan Preman Seluruh Indonesia) ataupun berita yang meliput sepak-terjang KPSI.

Tabloid ini mungkin berupaya mengelak dari tudingan miring (alias ngeles) dari para pembaca setianya namun hal ini tidak bisa dipungkiri saja oleh Tabloid BOLA. Berbagai tulisan dikompasiana yang membahas keberpihakan Tabolidd Bola telah lama muncul. Ini sebagai bentuk kegerahan para pembacanya terhadap berita-berita Tabloid BOLA yang makin terang-benderang berkiblat kepada KPSI bin Beringin.

Tabloid BOLA seharusnya tidak mengelak seperti itu, namun menjadikan sebagai pembenahan terhadap sisi pemberitaan mereka sehingga tudingan tersebut tidak akan muncul lagi.

Menurut penulis, alasan redaksi Tabloid BOLA ini yang menyatakan PSSI sangat pelit dalam memberikan informasi sebenarnya bisa terbantahkan karena PSSI mempunyai media officer yang khusus menangani pemberitaan tentang kegiatan PSSI sehingga melalui media officer tersebut Tabloid BOLA bisa mendapatkan berita. Namun ini mungkin tidak digunakan oleh Tabloid BOLA khususnya dalam pemberitaan tentang PSSI karena alasan –alasan sebagai berikut :

1. PSSI selama dibawah rezim Nurdin Halid wartawan Tabloid BOLA terbiasa dengan pola menghubungi langsung personal PSSI yang ingin diwawancarai tanpa melalui media officer PSSI dan hal ini berbeda ketika PSSI dibawah Djohar Arifin (DA).

2. Tabloid BOLA selama ini selalu memberitakan PSSI dibawah DA sebagai pihak yang paling berperan dan bertanggungjawab dalam hal konflik PSSI dan berita yang ditampilkan sering diplintir sehingga pihak PSSI merasa Tabloid BOLA tidak netral dalam pemberitaannya dan tidak perlu menanggapi apabila pihak Tabloid BOLA ingin mewawancarai mereka.

3. Pihak KPSI adalah pihak yang ingin dikenal oleh masyarakat dan ingin dicitrakan sebagai pihak penyelamat sepakbola sehingga mereka mendekati semua media dan kalau perlu dibayar untuk dapat memberitakan tentang KPSI dan ini termasuk mereka lakukan kepada Tabloid BOLA yang memang secara idealis sudah terkontaminasi dengan semangat “wani pironya” KPSI.

4. Hal terakhir dan mungkin hampir sama dengan poin 3, wartawan Tabloid BOLA telah menjadi wartawan lima puluh ribu atau dengan kata lain memberitakan sesuatu berdasarkan fulus dan hal ini merupakan alasan yang paling sering terlintas dibenak penulis menyikapi keberpihakan Tabloid BOLA kepada KPSI.

Ditambah sejak terjadinya konflik antara PSSI dengan KPSI, Tabloid BOLA selalu melihat KPSI dengan segala tingkah laku mereka dengan kacamata kuda sehingga pemberitaannya selalu menguntungkan pihak kumpulan preman tadi.

Dan sebagai pembaca setia Tabloid BOLA, saya menyarankan kepada Tabloid Bola agar tidak menjadi banci dalam pemberitaannya (artinya tidak tegas dalam pemberitaannya atau tidak selalu membela yang berani membayar walaupun salah) yaitu :

1. Mengganti wartawan yang telah terkontaminasi oleh semboyan wani pironya KPSI terutama wartawan Ole Nasional bernama Aria Yosia dan Respati Agung yang keduanya kentara sekali merupakan wartawan yang sangat memihak KPSI (walaupun hal ini pasti akan dibantah oleh Aria Yosia dan Respati Agung) dengan wartawan yang lebih fresh tanpa adanya kontaminasi oleh pihak KPSI.

2. Mencari informasi kepada pihak yang tidak terkontaminasi oleh pihak KPSI seperti AFC dan FIFA.

3. Jalinlah kerjasama dengan media officernya PSSI sehingga berita-berita yang disampaikan oleh Tabloid BOLA lebih berimbang.

4. Tidak selalu menganggap berita dari pihak KPSI adalah yang paling benar.

5. Tidak selalu menganggap berita dari pihak KONI dan Menpora adalah paling valid walaupun kedua lembaga diatas menyatakan menganggap dirinya sebagai pihak yang netral namun baik diakui atau tidak oleh kedua lembaga tersebut, keberpihakan mereka terhadap KPSI sangat kentara dalam hal konflik sepakbola nasional ini.

6. Redaksi Tabloid BOLA wajib mereferensikan kepada wartawannya untuk memperhatikan tulisan dari para Citizen Jurnalism (CZ) di Kompasiana khususnya dikanal bola yang banyak menyuarakan kebenaran dalam hal konflik PSSI sehingga menjadi bahan pembanding sebelum menuliskan berita.

7. Hal terakhir, untuk divisi Ole Nasional baiknya dipimpin oleh Weshley Hutagalung atau Arief Natakusumah yang lebih objektif dalam melihat kisruh sepak bola nasional saat ini.

Demikianlah saran dan harapan saya untuk Tabloid BOLA, semoga dimasa yang akan datang pemberitaannya menjadi objektif dan lebih berimbang, dan kalau tidak maka Tabloid BOLA sudah sepantasnya disebut sebagai Tabloid Banci.

NB : Tulisan ini saya sengaja saya tidak kirimkan ke redaksi Tabloid BOLA untuk ditampilkan di Forum Pembaca karena sebelumnya saya pernah mengirimkan surat yang berisi kritikan terhadap Tabloid BOLA tentang keberpihakannya kepada KPSI tetapi tidak pernah dimunculkan di Forum Pembaca (bahkan saya menantang kalau tulisan tersebut dimunculkan di Forum Pembaca maka itu adalah bukti kalau Tabloid BOLA adalah betul-betul netral dalam konflik sepak bola nasional dan terbukti sampai sekarang tulisan tersebut tidak pernah muncul di Tabloid BOLA).

0 comments:

Poskan Komentar